Sean Gelael Debut di WEC Akhir Pekan Ini, Ricardo : Jalan Menjadi Pro Driver
2021-04-28 09:36:46

mobilinanews (Jakarta) - Pembalap terbaik Indonesia, Sean Gelael akan memulai karir sebagai pembalap di ajang balap ketahanan dunia pada Sabtu (1/5/2021) akhir pekan ini.

Ya, pada hari itu, pembalap 24 tahun ini akan melakukan debut pada FIA World Endurance Championship (WEC) 6 Hours round 1 di sirkuit Spa-Franchorchamps, Belgia.

Harapan dan optimisme pun merebak. Dari Sean, Ricardo Gelael dan JOTA Sport tim bermarkas di Inggris yang memiliki reputasi bagus di ajang balap ketahanan yang merekrut Sean menjadi salah satu pembalapnya. Serta tentu insan dan penggemar balap Tanah Air. 

Apalagi, Sean bersama kompatriotnya Tom Blomqvist dan Stoffel Vandoorne telah melakukan pemanasan dengan baik di ajang Asian Le Mans Series (ALMS) 3 jam : mencetak double winner di sirkuit Yas Marina, Abu Dhabi, 19-20 Februari lalu.

Apa harapan, tanggapan dan obsesi Ricardo Gelael terhadap putra tunggalnya yang sempat 5 tahun berkompetisi di F2, dan kini berkarir di ajang balap ketahanan yang juga sangat bergengsi. Wawancara dengan bos KFC Indonesia itu dilakukan di Jakarta sebelum berangkat ke Belgia. Berikut petikannya :

Setelah 5 tahun di F2, Sean pindah ke WEC yang juga kompetisi balapan bergengsi. Apakah berarti peluang Sean ke F1 sudah tertutup?

Iya, kurang lebih begitu. Sean sudah mencoba di F2, 5 tahun. Tapi kurang berprestasi. Jadi menurut saya, peluang Sean ke F1 udah 95% tertutup.

Selama 5 tahun itu saya bertemu banyak orang F1, karena F2 satu paket perlombaannya dengan balap F1. F2 dulu baru F1.

Pemilik tim Toro Rosso bilang : Ricardo, berat Sean ke F1. Tak hanya sekadar harus bisa kenceng, ada faktor lain tak mudah masuk F1. Koneksi dan politik.

Kata dia, ada cara lain : membayar, dalam jumlah lumayan besar. Saya bilang nggak mau kalau membayar. 

Jadi itu yang membuat Sean dialihkan ke balap ketahanan?

Tentu tidak semata itu. Sean kan udah pernah turun di Asia Le Mans Series (ALMS) tahun 2016, eh naik podium. Sepertinya dia menemukan feel dan cocok di situ. 

Apalagi bulan Februari kemarin di sirkuit Yas Marina Abu Dhabi, Sean bisa P1 di ALMS, dua race dalam dua hari. Saat itu, Sean yang nyopir (membalap) lebih lama dan dominan.

Namun yang utama, menurut saya, ada peluang obsesi Sean menjadi pembalap Pro (profesional) bisa terwujud di sini.

Katanya, pabrikan besar seperti Porsche, Ferrari, Audi hingga Mercedes akan turun ke Hypercar kelas paling tinggi levelnya di WEC. Mulai tahun 2022 atau 2023.

Di sini kans itu terbuka. Bisa dikontrak tim pabrikan tentu menjadi obsesi semua pembalap termasuk Sean. Bukan soal uangnya. Tapi, predikatnya. Kalau dana, sebagai orang tua, saya siap support. 

Iya, kami pernah dengar itu, soal obsesi menjadi pembalap Pro, ketika Sean memulai balap international. Seberapa besar peluangnya?

Tergantung tahun ini, seberapa besar pencapaiannya di WEC. Makanya, untuk Sean, Tom (Blomqvist), Stoffel (Vandoorne) dan tim saya kasih stimulir. Kalau menang, akan saya kasih bonus. Maksudnya, bisa podium terus. Kalau misalnya bisa P2 terus pada 6 round WEC, kan kemungkinan bisa juara umum.  

Saya telah melihat peta persaingan di kelas LMP2 yang akan diikuti Sean, tidak mudah namun juga bukan berarti nggak bisa. Dari entry list, ada 14 mobil yang akan turun. Saya targetkan bisa selalu podium setiap round.

Terkait teammate Sean di WEC, yaitu Tom dan Stoffel, apakah memiliki visi sama dan sudah menemukan chemistry?

Pernah tahun 2016, Sean satu tim ALMS dengan pembalap dari Belanda. Yang terjadi, bukan mewujudkan visi tim, tapi obsesi pribadi. Itu yang saya nilai kurang sehat.

Nah, bersama Tom maupun Stoffel, saya lihat mereka berteman deket dan memiliki arah yang sama. Chemistry itu sudah mereka temukan. Itu modal bagus. 

Dan, grade Tom dan Stoffel sedikit di atas Sean. Namun Sean merupakan pembalap Silver diakui tim JOTA Sport sebagai yang kenceng. Hanya sedikit pembalap Silver (dari F2) yang kencang. Dan, secara skill ketiganya equel. 

Berbeda dengan ALMS yang karena balapannya hanya 3 jam, hanya 2 pembalap yang turun secara bergantian. Namun di WEC yang minimal 6 jam, ketiga pembalap akan turun semua secara bergantian.

Dari 6 round WEC, salah satunya adalah Le Mans 24 Hours di Prancis. Sean akan mencetak sejarah sebagai pembalap Indonesia pertama mengikuti balap ketahanan paling legendaris itu?

Iya, makanya saya berharap, akan menjadi sejarah tidak hanya bagi Sean namun juga Merah Putih (Indonesia). Tapi tak ingin membebani. Kami juga tidak berharap muluk-muluk, dengan Sean harus menjadi juara overall. Karena dalam balapan WEC, ada 4 atau 5 kategori kelas. LMP2 di posisi kedua setelah Hypercar.

Dan, saya dengar juga ada pembalap Indonesia lain (Andrew Haryanto), yang turun di kelas di bawahnya LMP2. 

Bagaimana peran tim JOTA Sport yang telah memiliki reputasi bagus di ajang balap ketahanan dan Le Mans 24 H? 

Sangat penting. Karena dalam balap ketahanan, tidak hanya gaspol seperti di F2 misalnya. Namun lebih pada koordinasi, komunikasi dan kesigapan antara pembalap dan kru. Dan itu sudah mulai terjalin di ALMS Bahrain dan UEA Februari lalu.

Tidak harus buru-buru harus terdepan setelah lampu start menyala, karena balapan berlangsung lama. Jadi berbeda dengan F1 atau F2.

Sean sendiri masih kebawa driving style F2, harus gaspol sejak start ketika di Bahrain. Namun, mulai berubah dan bisa menyesuaikan driving style balap ketahanan di Abu Dhabi, juga berkat komunikasi yang bagus dengan tim. Sean banyak bertanya, dan juga feed back dari tim. 

JOTA Sport di WEC tahun ini menurunkan 2 tim, salah satu tim dengan pembalap Sean, Tom dan Stoffel. Tahun lalu, mereka runner up di Le Mans 24 H. Tapi tahun sebelumnya adalah juara satu.  

Mohon doa restu dari masyarakat Indonesia, insan balap dan penggemar Sean untuk debut di WEC akhir pekan ini bisa berjalan lancar. Terima kasih. (bs)